BPMPD BARTIM DUKUNG WORKSHOP UKIRAN KHAS ETNIK

penyerahan cinderamata

Penyerahan bantuan hibah alat kerajinan ukir kepada para seniman di Bartim oleh BPMPD Bartim {foto; wan}

Tamiang Layang, eKSPOSIA- Pemberdayaan masyarakat melalui eksploitasi kemampuan dalam pengolahan ukir bermotif etnik Dayak, yang menjadi misi Kelompok Seniman dan Ekonomi Kreatif Produktif Etnik Ornamental Dayak Nansarunai Jaya Kabupaten Barito Timur, kembali mendapat respon positif. Untuk kesekian kalinya, selaku institusi dari otoritas Pemerintah Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, yang berkompeten dalam pemberdayaan masyarakat, Badan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Barito Timur (BPMPD Kab Bartim) menunjukkan dukungan nyata.
Melalui workshop seni ukir bermotif Dayak yang dihelat di Aula BPMPD Kab Bartim, Senin, 16 November 2015, sebanyak 20 pengrajin ukir maupun masyarakat dari 10 kecamatan di Bartim, mengikuti kegiatan ini hingga akhir acara. Dijelaskan pula oleh Kepala BPMPD Kab Bartim, Mahudi S Dalib, pelatihan ini merupakan follow up dari studi banding tim seniman ukir Nansarunai Jaya ke Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Diharapkan, nantinya akan ada kesinambungan berupa penularan keahlian kepada warga masyarakat luas, yang akan membangkitkan potensi ekonomi kreatif di daerah, dengan pemanfaatan sumberdaya alam nan melimpah di Kab Bartim.
Wakil Ketua 1 DPRD Bartim, Ariantho S Muller ST MM, yang merupakan Pembina Nansarunai Jaya, juga melontarkan visi yang sama. Bahwa banyaknya sumberdaya alam di Kab Bartim, seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai sebuah karya seni bernilai tinggi, yang mungkin akan menjadi sebuah pelopor dalam revolusi pola pikir. Politisi muda dari Partai PKPI ini, juga mengatakan bahwa komunitas Nansarunai Jaya tidak akan berhenti melangkah. Apalagi dengan beberapa prestasi terkait yang diraih, serta kepercayaan dari beberapa dinas/ badan setempat, justru akan menjadi pemicu untuk lebih banyak menghasilkan karya lagi.
Dalam acara tersebut, dilakukan penyerahan bantuan alat kerajinan ukir kepada para seniman ukir dan pandai besi Nansarunai Jaya oleh BPMPD Bartim. Dan sebagai ungkapan terimakasih atas support BPMPD selama ini, para seniman di komunitas Nansarunai Jaya pun memberikan cinderamata berupa souvenir berupa miniatur Rumah Betang karya Zohny Nainggolan, peraih Juara I dalam Keang Ethnic Festival, serta patung ukiran khas Dayak Maanyan/Lawangan karya Awatno AmKG, penyabet Juara II pada festival tersebut. Di mana keduanya, juga merupakan anggota Nanarunai Jaya yang tempo hari mengikuti studi banding ke Jepara, Jawa Tengah. wan

LAHAN TAMBANG POTENSI MUNCULKAN MAFIA LOKAL?

Tamiang Layang, eKSPOSIA – Meski sektor pertambangan di Kabupaten Barito Timur masih mati suri, namun lahan-lahan di kawasan incaran lahan tambang, agaknya masih menjadi potensi ekonomi besar yang diincar baik pemilik lahan, perusahaan hingga broker alias makelar tanah. Para broker tanah, kini juga tampil dalam modus dan tampilan baru yang jauh lebih meyakinkan daripada dulu. Ujung-ujungnya, masyarakat pemilik lahanlah yang nyaris selalu jadi pihak yang terjepit.
Kejadian yang menimpa dua perempuan tua di Kec Dusun Tengah, sebut saja Ny Asnah (58) dan Ny Marni (60), bisa menjadi indikasi mereka menjadi korban permainan oknum broker, yang ironisnya sudah mereka percayai lantaran tatus sosial dan kedudukannya telah dikenal meyakinkan.
“Saya tak bisa berbuat apa-apa, karena saat menitipkan SKT saya percaya penuh pada beliau. Saya mau jual dengan harga berapapun karena perlu biaya untuk operasi katarak. Selebihnya untuk makan. Maklum, kami orang susah. Tapi setelah lama dititipkan, ternyata kata beliau tidak jadi. Padahal, beberapa tetangga mengatakan tanah saya masuk di areal yang dijual ke perusahaan. Apa masuk akal kalau tanah saya saja yang ditinggal, sementara kanan kiri atas bawah semuanya dibeli oknum tersebut,” tutur Ny Marni dengan memelas.
Senada dengan janda lanjut usia tersebut, Ny Asnah juga menyatakan kepercayaan pada oknum itulah yang membuat ia dulu seperti mengiyakan saja saat si oknum menjadi pejabat yang berwenang di tingkat desa, selalu menunda pembuatan SKT.
“Mentang-mentang saya ini bodoh, orang tua lantas diakalnya. Akhirnya, saya tidak punya bukti surat kepemilikan tanah.  Saat menagih janjinya yang mau membeli tanah, dia bilang tidak berani beli karena tanah itu tidak bersurat-menyurat. Dan ia juga bilang, semuanya sudah dihitung di hutang saya dulu padanya, sebesar Rp 50 juta. Padahal kesepakatan dulu tidak seperti itu, tapi saya tak bisa apa-apa lantaran tak ada bukti kuitansi atau apapun saat pinjam uang padanya,” kisah Ny Masnah dengan nada penuh emosi.
Salah satu kerabat Ny Marni menyarankan agar masalah ini dibawa ke tingkat desa, bahkan jika perlu sampai ke pihak kepolisian lantaran sudah ada indikasi penipuan. tyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s