eksoTIgasi

DESAH DARI BALIK TOBONG

investigasi reportase: IWAN “Resa” PRASETYA

            Tini (sebut saja namanya demikian, 30 tahun), duduk termangu di bangku depan bilik tobong (perumahan sederhana tak permanen yang biasanya terbuat dari dinding bambu atau triplek, yang merupakan tempat huni bagi pemain wayang orang atau kethoprak –red). Anaknya tadi merengek minta makan dengan lauk ayam. Sementara ia hanya mampu menyediakan sebutir telur yang dibelinya dari warung. Sebagai ‘manajer keuangan’ rumah tangga, Tini tentu harus pintar-pintar membagi uang yang didapatkan suaminya dan dirinya dari hasil main Kethoprak.

Uang Rp 37.000 yang dia pegang hari ini, terbagi ke banyak kebutuhan. Beli minyak tanah, beras (walaupun dibeli secara literan), bumbu dapur, minyak goreng dan jajan Yuyun, anaknya. Nyaris tak bersisa lagi. Makanya ia hanya bisa membeli dua butir telur sebagai lauk yang bergizi bagi sang buah hati. Padahal nanti malam, Grup Kethoprak YB yang jadi lahan mencari nafkah dia dan suaminya tak main. Pengurus kelompok ini masih menunggu perpanjangan ijin pertunjukan dari pihak yang berwenang.

Kesedihan menyelimuti hati Tini. Beberapa hari lagi memasuki Tahun Ajaran Baru, Yuyun ingin bersekolah. Memang bersekolah di SD tak perlu biaya sekarang. Namun tetap saja perlu uang untuk beli baju seragam, topi, atau alat-alat tulis. Melihat Yuyun yang sedang bermain dengan kawan-kawannya di tanah dengan baju lusuh, tak jauh dari Tini duduk, membuat hati Tini tambah tersayat. Ia bingung, dari mana dia bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan yang sebenarnya sederhana itu?

Di atas panggung, Tini yang merupakan primadona itu kerap berperan sebagai ratu atau putri kerajaan yang disembah para kawulanya dan bergelimang kecukupan hidup. Tapi itu di panggung. Jauh berbeda dengan di alam nyata di mana ia dan Hardi, suaminya, terpaksa harus sering berpuasa.

Sementara dari sebuah ruangan yang dipakai sebagai ‘kantor manajemen’ Kelompok Kethoprak YB, dua orang lelaki sedang kasak-kusuk sambil memperhatikan dirinya. Dan tak lama, keduanya menghampiri Tini yang nampak agak terkejut melihat kedatangan salah satu dari dua pria itu. “Pak Marno?” sapa Tini ramah.

Lelaki ceking dengan rambut yang hampir penuh uban, yang dipanggil Pak Marno, tersenyum menepuk pundak Tini. Dia merupakan pimpinan kelompok kesenian tradisional ini. “Duduk saja, Tin. Mana Hardi?” tanyanya.

“Ke Desa Delangu, Pak. Ada kerjaan membantu kakaknya yang bekerja sebagai tukang. Ada perlu dengan Kang Hardi?” Tini balik bertanya dengan sopannya. Ia memang menghormati Pak Marno, yang sangat baik dan perhatian padanya.Meskipun…

Oh, tidak. Aku perlu sama kamu, Tin. Bisa kita bicara di bilik depan punyaku itu? Ayo,” ajak Pak Marno membuyarkan lamunan Tini. Tini mengangguk. Ia menghampiri Yuyun dan mengatakan sesuatu yang disambut anggukan kepala Yuyun. Tini pun mengikuti langkah Pak Marno dan pria gemuk yang jadi tamu bos Kethoprak itu.

“Tin, ini Pak Wardiman. Beliau pejabat di sini, dan beliau juga yang menolong kelompok kita sehingga bisa main kembali besok. Dan beliau ini penggemarmu, lho. Beliau sering nonton penampilanmu,” Pak Marno mengenalkan tamunya begitu mereka sudah duduk di bilik yang jadi ‘jatah’ dia selaku pimpinan. Mereka duduk bersila berhadapan. Tini tersenyum dan mengangguk hormat. Disalaminya Pak Wardiman.

“Jadi, begini ya Tin. Aku mau ngomong langsung ke inti pembicaraan saja,…” Pak Marno pun menjelaskan maksud kedatangan sang tamu, yang membuat Tini terkejut. Pak Wardiman ingin mengencaninya! Paras Tini yang menawan dan tubuh sintalnya, membuat Pak Wardiman selama ini kesengsem. Tiap menonton penampilan Tini di atas panggung, ia sering membayangkan bisa mengencani sang primadona Kethoprak ini. Dan itulah yang ia sampaikan pada Pak Marno tadi di kantornya, saat bos YB itu mengurus perpanjangan ijin.

Namun Tini tak punya kuasa dan keberanian untuk menolak. Ia punya banyak hutang budi pada Pak Marno. Pimpinannya itu sering memberinya uang dan pekerjaan sampingan buat Hardi. Bahkan dulu saat Yuyun dirawat di Puskesmas, Pak Marno yang mencarikan uang untuk biaya. Dan Tini…tak kuasa menolak manakala pada suatu hari Pak Marno membujuknya untuk melayani dirinya! Tentu saja tanpa sepengetahuan Hardi.

Rasa marah, terinjak, sedih dan terhina bercampur dalam diri Tini saat itu. Nyaris ia berontak dan melaporkan pada Hardi. Namun efeknya tentu akan tak mengenakkan.  Mungkin Pak Marno yang ceking itu bisa dihajar dengan mudah oleh Hardi. Hanya saja, apa ia dan sang suami sudah siap meninggalkan ladang mata pencaharian yang ada? Di mana pula mereka akan tinggal? Maka terpaksa waktu itu, Tini melayani hasrat Pak Marno di sebuah ruangan kosong. Dia hanya pasrah saat Pak Marno mencumbui lalu menaikkan kebaya yang ia pakai. Tini berdiri mengangkangkan kedua kaki, dengan kedua tangan berpegangan di dinding papan dan tubuh agak membungkuk. Sementara Pak Marno memeluknya dari belakang.

Lelaki itu tersengal-sengal melampiaskan gejolak birahinya, sementara tubuh Tini terguncang-guncang dalam pelukannya. Pak Marno pun kemudian mencapai klimaksnya tak lama kemudian. Ia menggeram panjang, tubuhnya menegang sesaat lalu terkulai mendekap Tini dari belakang sembari meremasi –maaf—payudara wanita itu. Nafasnya tersengal-sengal.

Dan peristiwa itu tak terjadi hanya sekali. Melainkan sampai lima kali, dengan rentang waktu tak beraturan. Sepertinya, Pak Marno ketagihan dengan kehangatan tubuh Tini. Ini pula, yang nampaknya terjadi pada diri Pak Wardiman. Seusai Pak Marno meninggalkan mereka (setelah diberi uang Pak Wardiman), lelaki itu menutup pintu. Ia menggelar kasur kapuk yang sudah menipis, yang disediakan Pak Marno.

Tak beda dengan sang bos Kethoprak, pria berambut ikal tipi situ juga seperti tak sabaran. Ia langsung membaringkan Tini, menindihinya, lalu melakukan apa yang sudah lama ia impikan. Dia menjelajah tiap jengkal tubuh padat sintal Tini dengan ciuman panas dan nafas yang menderu. Tiap sudut tubuh Tini tak ia sia-siakan. Kulit telanjang keduanya beradu berhimpitan bergesekan, di antara gerakan-gerakan persebadanan yang dilakukan Pak Wardiman.

Sekitar sepuluh menitan, pergulatan nafsu Pak Wardiman agaknya telah mencapai tahapan yang dia inginkan. Mata pria gemuk itu mendelik, wajahnya berkerut dan ia menggeram panjang. Tini memekik kecil, menahan rasa yang ada di dalam organ intimnya akibat ejakulasi yang dicapai Pak Wardiman. Sesaat kemudian, pria itu melepaskan diri dan berbaring dengan nafas yang terengah-engah. Ia tersenyum puas. Diulurkannya tiga lembar uang seratus ribuan pada wanita yang baru saja jadi pelampiasan hasratnya itu.

Begitu Pak Wardiman selesai dan pulang, beberapa menit kemudian, Tini yang sudah memakai pakaiannya kembali, keluar dari bilik. Tiga ratus ribu rupiah yang dia genggam di tangan kanannya, jumlah yang besar bagi dia dan suaminya yang paling hanya mendapatkan Rp 50.000 (jika penonton ramai) sekali pentas. Itu pun karena berdua. Keperluan rumah tangganya bakal tak jadi masalah sementara ini.  Yuyun pun bisa membeli keperluan sekolahnya. Bahkan jika Tini bersedia, kata Pak Wardiman, lusa pria itu akan mengajaknya ‘bermain’ ulang dan uang akan dia terima lagi.

“Maafkan Ibu, Yun. Ibu lakukan ini untuk memenuhi hidup kita dan keperluanmu, Nak,” gumamnya, melihat Yuyun tersenyum dan mendatanginya. Wajah kotor Yuyun dan kaosnya yang longgar dengan sobek di bahu kiri, membuat Tini memutuskan untuk melakukan sesuatu lagi lusa. Sesuatu yang tak ia ingini, namun harus dilakukannya untuk tidak menyerah kalah pada kemiskinan!

Gegap gempita bila pertunjukan tiba, gemerlapnya panggung dan idealisme “melestarikan budaya daerah sampai mati”, terbukti hanya menjadi bagian dari kehidupannya yang tidak riil. Tak memberikan apapun bagi dirinya, Hardi atau juga pelaku dunia seni Kethoprak lain, yang telah memberikan cinta serta dedikasi yang begtu besar. Tini menggandeng Yuyun menuju toko seberang kompleks tobong, untuk berbelanja barang kebutuhan pokok, seperti gula, sabun, kopi, rokok Hardi, shampoo dll. Sebuah hal yang ‘mewah’ bagi mereka selama ini…**

 

**terima kasih pada Mas Slamet W & Pak Wal di Kota S, yang sudah membantu data serta mengorek kisah Tini (nama yang kami samarkan), di lokasi tobong sanggar budaya tradisional Kota S…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s