travelia

 Dieng; Pesona Kabut Senja & Legenda

            Areal ladang sayur-mayur seperti kentang, kol, cabai dll, juga tembakau, yang menghampar beratus-ratus hektar di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah, seperti melahirkan jutaan inspirasi saat kita menatapnya.

            Belum lagi ketika awan turun menyelimuti hamparan tersebut perlahan. Nuansa eksotis begitu terasa, menciptakan nada-nada indah, yang mungkin lebih ritmis daripada tembang Yogyakarta-nya KLa Project.

Walaupun tetap menerima sentuhan modernisasi, namun agaknya Dieng tetaplah indah dalam segala keaslian sisi tradisionalnya. Rumah-rumah berbentuk joglo yang kebanyakan terbuat dari papan, rajangan daun-daun tembakau yang dijemur, penduduk prianya yang kerap memakai sarung & jaket lantaran dinginnya temperatur udara, atau warung-warung kecil yang menawarkan kopi asli non pabrik.

Kabut dingin atau awan yang turun, bahkan ketika masih terhitung siang hari (+ pkl. 14.WIB), juga merupakan salah satu eksotisnya panorama Dieng, di samping tentu saja sekian banyak obyek wisata yang ada di dataran tinggi dan terletak berbatasan antara Kab Banjarnegara dan Kab Wonosobo ini.

Obyek-obyek wisata itu antara lain adalah candi-candi yang namanya diambil dari tokoh Wayang. Ada Candi Bimo, Candi Arjuna, dll, yang konon merupakan tempat pertapaan tokoh-tokoh tersebut.           

Begitu pula sebuah sumur besar, Jalatunda, yang jadi legenda (atau mitos?) masyarakat sebagai sumur tempat berendam Gatotkaca, sama halnya salah satu kawah wisata yang ada di sana, yaitu Kawah Candradimuka. Kawah yang dipercaya sebagai tempat menggodok bayi ksatria Pringgandani putra dari Bima alias Werkudara itu.

Kebanyakan situs berupa candi atau kawah, memang berangkat dari legenda pewayangan. Agak berbeda dengan obyek wisata danau. Telaga Warna (Colour Lake), misalnya. Danau yang warnanya berubah-ubah ini terbentuk secara alam dan perubahan warnanya disebabkan unsur belerang (fosfor) tinggi.

Namun hati-hati, di balik keindahan & memikatnya kawah-kawah yang banyak bertebaran di Dieng, Anda tetap harus mewaspadai gas belerang yang diproduksinya.

Mungkin ada yang masih ingat insiden meletusnya Kawah Sikidang di tahun ’80-an dulu, yang menewaskan ratusan warga? Pemerintah setempat melalui Dinas Pariwisata-nya pun sudah membuat langkah antisipasi untuk mencegah bahaya serupa terjadi sewaktu-waktu.

Kalau tak puas menikmati Dieng hanya beberapa jam berjalan-jalan, Anda bisa menginap kok. Beberapa penginapan, dari yang murah meriah sampai lumayan berkelas, bertebaran di Dieng, yang seperti menawarkan Anda untuk menginap satu atau dua hari, untuk lebih menikmati alam Dieng.

Tapi kalau Anda tergolong pria yang ‘nakal’, barangkali akan sulit menemukan apa yang Anda inginkan. Kecuali di tempat tertentu dengan ‘kode rahasia’ tertentu pula. Sebab, sepanjang yang penulis tahu, Dieng tak menawarkan ‘menu’ yang satu itu…    [iwanpras]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s